Budaya Tertib Berlalu Lintas

Budaya Tertib Berlalu Lintas

Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang Tuban

MANGKUNEGARA.COM - Tulisan ini merupakan tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum (PIH). Dibuat mandiri oleh mahasiswa dan ditayangkan pada portal mangkunegara.com.

  • [message]
    • ##check##Ditulis Oleh :  Gilang Isza Pramada Putra
      •  Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang Tuban Kelas Reguler B
Dewasa ini, kondisi sarana angkutan umum yang belum memadai membuat masyarakat lebih memilih untuk membeli kendaraan pribadi sebagai sarana transportasi, dari pada harus menggunakan sarana transportasi umum sebagai alat mobilitas dalam menunjang kehidupan masyarakat. Pernyataan tersebut apabila dilihat dari sisi sosial budaya, keinginan seseorang untuk memiliki kendaraan pribadi sedikit banyak dipengaruhi adanya pandangan bahwa memiliki kendaraan bermotor mencerminkan status sosial di masyarakat (Hendratno, 2009: 449). Hal tersebut terlihat dari perkembangan transportasi darat dari tahun ke tahun selalu meningkat terutama transportasi kendaraan roda dua (sepeda motor) (Maspupa, 2014: 3).

Meningkatnya penggunaan sepeda motor, juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1) harga minyak mentah yang mempengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia sejak tahun 2005. Ketika harga BBM tidak menentu, masyarakat cenderung akan memilih kendaraan yang hemat BBM. (2) Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. (3) Mahalnya harga tarif angkutan umum yang tidak sebanding dengan keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya (Yogatama, 2013: 2). Akan tetapi, kepemilikan kendaraan pribadi tersebut tidak disertai dengan tingkat disiplin dalam berkendara pada masyarakat. Lemahnya kesadaran masyarakat terhadap peraturan berlalu-lintas terlihat dari rendahnya tingkat kedisiplinan masyarakat dalam berkendara, sehingga melahirkan budaya tidak disiplin pada masyarakat. Kurang sadarnya masyarakat dalam hukum berlalu-lintas dapat dilihat dalam perilaku seperti semakin meningkatnya pelanggaran lalu lintas oleh pengendara motor. Hal tersebut dapat diketahui dari banyaknya pelnggaran rambu lalu lintas di Kota Bandung pada tahun 2014 dengan jumlah 39.205 pelanggaran (Sumber: Polwiltabes Kota Bandung, 2015).
[post_ads]
Perilaku ketidakdisiplinan masyarakat dalam berlalu-lintas seperti mengendarai kendaraan melebihi batas kecepatan yang ditentukan, menerobos lampu lalu lintas, melewati marka pembatas jalan, tidak melengkapi alat keselamatan seperti halnya tidak menggunakan helmet, spion, lampu-lampu kendaraan, ketidaklengkapan surat-surat kendaraan bermotor, tidak taat membayar pajak, menggunakan kendaraan tidak layak pakai. Pelanggaran lalu lintas yang sering terjadi juga melibatkan cara pengendara yang “menerabas antrian kendaraan, berkendara zigzag dengan kecepatan tinggi, beberapa kali pernah menerabas lampu lalu lintas, dan melanggar rambu yang dilarang menikung” (Hendratno, 2009: 499). Permasalahan tersebut sampai saat ini selalu dihadapi oleh para penegak hukum. Hal itu sudah dianggap biasa dan menjadi kebiasaan masyarakat. Tatkala para pengguna kendaraan di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara maju yang secara keseluruhan sudah mampu menciptakan budaya disiplin dalam tatanan kehidupan. Hal tersebut yang menjadikan titik tolak pentingnya menciptakan budaya disiplin sebagai penunjang dalam meningkatkan kebermaknaan kehidupan sosial. Keadaan masyarakat yang seperti itu dijelaskan sesuai dengan yang digambarkan Chapin.  

Kondisi lain digambarkan Emile Durkheim (Hendratno, 2009; Merton, 1967), perilaku kendaraan seperti di atas, diistilahkan sebagai anomie, berpudarnya pegangan pada kaidah-kaidah yang ada menimbulkan keadaan yang tidak stabil, dan keadaan tanpa kaidah. Perilaku menyimpang (deviant behavior) terjadi apabila manusia mempunyai kecenderungan untuk lebih mementingkan suatu nilai sosial budaya, daripada kaidah-kaidah yang ada untuk mencapai cita-cita atau kepentingan. Banyak permasalahan yang timbul dengan lemahnya budaya disiplin pada masyarakat, yang pelanggarannya dalam berlalu-lintas kerap terjadi, pertikaian sesama pengguna jalan, saling adu mulut, dan yang paling fatal munculnya korban jiwa akibat ketidaksiapan para pengguna jalan dalam memahami peraturan lalu lintas. Terjadinya pelanggaran lalu lintas salah satunya didasari oleh keberanian untuk melanggar karena adanya mentalitas bahwa setiap masalah dapat diselesaikan secara “damai” dengan Polantas, adanya budaya menerabas dan pudarnya budaya malu bahkan bagi sebagian orang menjadi kebanggan tersendiri apabila dapat mengelabui Polantas atau melanggar rambu-rambu lalu lintas (Hendratno, 2009: 501). Pernyataan tersebut dibenarkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hadiluwih (2006: 141) yaitu sikap mental dan disiplin pengguna jalan raya serta petugas lalu lintas kurang terpuji sehingga muncul ketidakpatuhan yang diyakini dapat diselesaikan dengan uang.
[next]
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Akbarto di Malang tahun 2009, dari 50 responden terdapat 28 responden (56%) menyatakan pernah melakukan suap pada Polantas guna damai di tempat. Suap dilakukan dengan terang-terangan (67,9%), dan sembunyi-sembunyi (32,1%). Alasan untuk menyuap petugas sebab mudah (25%), cepat (71,4%), dan murah (3,6%). Mayoritas alasan melakukan suap terhadap Polantas karena cepat dibandingkan penyelesaiannya dengan perundang-undangan. Hal tersebut tentu saja menjadi indikasi bahwa masih banyak penyimpangan dan tindakan oknum polisi yang terjadi akibat budaya kerja belum berjalan sebagaimana mestinya (Zam, 2013: 89).

Pasal 106 ayat (1) menyebutkan bahwa “setiap orang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendarannya dengan wajar dan penuh konsentrasi”. Selanjutnya dalam Pasal 283 disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan. Sebagaimana Pasal 106 ayat (1), dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan kurungan atau denda paling banyak Rp 750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Namun, masih banyak pengendara roda dua yang melakukan kegiatan-kegiatan yang dilarang tersebut seperti menggunakan handphone.  Selain karena sarana dan prasarana, timbulnya kemacetan yang terdapat di kotakota besar diakibatkan bertambahnya jumlah kendaraan yang menjadi pemicu pengendara Soni Sadono untuk melakukan pelanggaran. Misalnya kendaraan roda dua yang menggunakan trotoar sebagai jalan pintas karena jalan utama macet dan sebagainya. Hal yang memerlukan perbaikan demi ketertiban dalam lalu lintas yaitu sarana dan prasarana lalu lintas yang masih terbatas, menajemen lalu lintas yang belum berfungsi optimal, pelayanan angkutan umum penumpang yang belum memadai dan disiplin pemakai jalan yang masih rendah (Budiarto dan Mahmudah, 2007: 6).

Kota Bandung merupakan salah satu kota besar yang menjadi pusat tujuan wisata baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Hal tersebut tentu saja mengundang semakin padatnya volume kendaraan terlebih menjelang hari-hari libur. Pada saat yang bersamaan kerawanan untuk terjadinya kecelakaan akan semakin besar. Semakin lemahnya masyarakat dalam taat berkendara membawa masyarakat Kota Bandung memiliki budaya yang buruk dalam berlalu-lintas, terbukti dengan semakin banyaknya pelanggaran-pelanggaran dan masyarakat menilai pelanggaran tersebut hal yang biasa dan lumrah adanya. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa budaya disiplin masyarakat Kota Bandung dalam berkendara masih sangat kurang. Untuk itu, jurnal ini berupaya untuk menguraikan dua hal utama. Pertama, bagaimanakah pengalaman berlalu-lintas kendaraan roda dua di Kota Bandung, tentu dilihat dari sudut pandang Fenomenologis? Kedua, bagaimana internalisasi disiplin dalam berlalu-lintas kendaraan roda dua perlu diberikan di Kota Bandung? Ketiga, bagaimana model internalisasi disiplin dalam berlalu-lintas kendaraan roda dua di Kota Bandung?
[next]
[post_ads_2]
Pengalaman berlalu-lintas di Kota Bandung masih terdapat pelanggaran seperti pelanggaran marka jalan, tidak menggunakan helm, modifikasi kenalpot, pelepasan spion, pelepasan badan motor, menyalip dari kiri jalan dan sebagainya. Hal tersebut terjadi karena sikap pengendara roda dua selama berkendara masih muncul sikap yang negatif seperti sikap penerabas, hipokrit, ketidakjujuran, dan membeo. Dalam rangka meminimalisir pelanggaran tersebut, pengguna kendaraan roda dua mengharapkan kepada petugas yang berwenang untuk tegas dalam memberikan sanksi kepada setiap pelanggar, terus memberikan informasi yang dapat menambah pengetahuan tentang bagaimana berkendara yang baik, dan proaktif dalam membatasi jumlah kendaraan roda dua yang beredar di masyarakat baik itu berupa kendaraan roda dua yang bodong maupun kendaraan roda dua yang tidak laik guna, dan petugas terus dituntut proaktif dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang berkendara yang sesuai dengan peraturan yang berlaku

Daftar Bacaan:
Anggarasena, B. 2010. Strategi Penegakkan Hukum dalam Rangka Meningkatkan Keselamatan Lalu Lintas dan Mewujudkan Masyarakat Patuh Hukum. Tesis pada Program Pascasarjana Universitas Dipenogoro. Tidak Diterbitkan. Anggraini. D. 2013. Studi tentang Perilaku Pengendara Kendaraan Bermotor Di Kota Samarinda dalam E-Journal Sosiatri-Sosiologi, 1 (1), 10-19. Ayuningtyas, D.S., Guritnaningsih, dan Santoso, A. 2007. Hubungan Antara Intensi untuk Mematuhi Rambu-Rambu Lalu Lintas dengan Perilaku Melanggar Lalu Lintas pada Supir Bus 01 Jakarta. JPS. 13 (1). 1-14. Baron, R.A., and Byrne, D. 1991. Social Psychology. Understanding Human Interaction, Sixth Edition. Boton: Alyn and Bacon Inc. Beninga, J. S. 1991. “Moral And Character Education In The Elementary School: In Introduction”. Benninga, J.S. (Penyunting). Moral, Character, And Civic Education in The Elementary School. New York: Teachers College, Columbia University. Boediningsih, W. 2011. Dampak Kepadatan Lalu Lintas terhadap Polusi Udara Kota Surabaya. Jurnal Fakultas Hukum. 20 (20). 119-138. Budiarto, A dan Mahmudah. 2007. Rekayasa Lalu Lintas. UNS Press:  Surakarta. Chapin F.S. Jr. 1974. Human Activity Patterns and the City: Things People Do in Time and in Spice. Wiley. New York. Chapin. F.S.Jr. 1974. Human Activity Patterns and the City: Things People Do in Time and Space Wiley, New York, hlm.9. Lihat juga D.J. Walmsky, Urban Living; the Individual in the City. John Wiley & Sons: New York Daeng, H.J. 2000. Manusia Kebudayaan dan lingkungan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
[post_ads_2]

DISCLAIMER:
Konten dari tulisan ini adalah milik mahasiswa yang bersangkutan. Segala sesuatu berkaitan dengan isi tulisan sepenuhnya menjadi otoritas mahasiswa. Penayangan pada website ini juga telah melalui persetujuan dari pihak yang bersangkutan.

KOMENTAR

Name

AGAMA,2,Biografi,1,BLOG,16,Dosen,27,Download,15,Foto,14,HUKUM,5,HUMANIORA,9,Instagram,7,Jadwal Kuliah,2,Mahasiswa,49,Makalah,6,MANGKUNEGARA,6,Materi Kuliah,13,POLITIK,3,Puisi,1,Reguler A,26,Reguler B,24,Rubrik Mahasiswa,50,Sastra,1,Sejarah,2,Tugas Kuliah,54,
ltr
item
Website Resmi | Dr. RM. Armaya Mangkunegara, S.H., M.H.: Budaya Tertib Berlalu Lintas
Budaya Tertib Berlalu Lintas
Budaya Tertib Berlalu Lintas
https://4.bp.blogspot.com/-fPEFT_geQzA/W_AdAm9FAEI/AAAAAAAAASg/E0bSS5RiFU0fnIWOclrandCvei-0HRpAQCLcBGAs/s320/ILUSTRASI%2BTUGAS.png
https://4.bp.blogspot.com/-fPEFT_geQzA/W_AdAm9FAEI/AAAAAAAAASg/E0bSS5RiFU0fnIWOclrandCvei-0HRpAQCLcBGAs/s72-c/ILUSTRASI%2BTUGAS.png
Website Resmi | Dr. RM. Armaya Mangkunegara, S.H., M.H.
https://www.mangkunegara.com/2018/11/budaya-tertib-berlalu-lintas.html
https://www.mangkunegara.com/
https://www.mangkunegara.com/
https://www.mangkunegara.com/2018/11/budaya-tertib-berlalu-lintas.html
true
8785525627328632150
UTF-8
Tampilkan Semua Post Tidak Menemukan Post TAMPILKAN Baca Selengkapnya Balas Batalkan Balasan Hapus Oleh Home HALAMAN POSTS Tampilkan Semua BACA JUGA: TAG ARSIP CARI SEMUA POST Artikel yang Anda cari tidak ditemukan Kembali Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy Semua Seleksi Semua Semua Code Telah Tercopy Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy