Kaidah Hukum Sebagai Wadah Dalam Menggapai Cita-Cita Masyarakat

Kaidah Hukum Sebagai Wadah Dalam Menggapai Cita-Cita Masyarakat

Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang Tuban
MANGKUNEGARA.COM - Tulisan ini merupakan tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum (PIH). Dibuat mandiri oleh mahasiswa dan ditayangkan pada portal mangkunegara.com.
  • [message]
    • ##check##Ditulis Oleh :  Azizah Nirma Antasari
      • Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang Tuban Kelas Reguler B
Hidup bermasyarakat ialah bercampur dan bergaul dengan sesamanya untuk dapat memenuhi segala kebutuhan agar hidup layak sebagai manusia. Aristoteles mengatakan bahwa manusia itu adalah zoon politicon artinya bahwa manusia itu sebagai makluk pada dasarnya ingin selalu berkumpul dengan sesamanya.[1]

Setiap anggota masyarakat pasti mempunyai kebutuhan dan mempunyai kepentingan. Ada kebutuhan yang sama dan ada pula yang bertentangan. Dengan adanya kepentingan yang berbeda di dalam masyarakat tersebut maka sering terjadi pertentangan-pertentangan antara satu kepentingan dan kepentingan lainnya. Supaya kepentingan-kepentingan yang saling  bertentangan itu tidak menimbulkan kekacauan di dalam kehidupan bermasyakarat dan supaya kedamaian serta ketentraman dapat dipelihara maka perlu adanya suatu kekuasaan berupa petunjuk-petunjuk hidup atau peraturan-peraturan sebagai tata tertib yang harus ditaati oleh masyarakat. Peraturan tersebut berfungsi sebagai suatu tatanan dalam masyarakat.

Petunjuk-petunjuk hidup itu terdapat dalam peraturan-peraturan atau kaidah-kaidah hukum yang terdiri dari kaidah keagamaan atau kaidah kepercayaan, kaidah kesusilaan, kaidah kesopanan, dan kaidah hukum.

Kaidah keagamaan atau kaidah kepercayaan adalah suatu kaidah sosial yang berasal dari Tuhan, berisikan perintah, larangan, dan anjuran dalam kehidupan. Kaidah ini merupakan tuntunan hidup manusia untuk menuju ke arah yang baik dan benar. Kaidah agama mengatur tentang kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan dan kepada dirinya sendiri. Kaidah ini memiliki sanksi yang disebut dosa dimana hukuman atas dosa tersebut datang secara langsung dari Tuhan dan berlaku di alam akhirat setelah manusia mengalami kematian.

Kaidah kesusilaan adalah peraturan hidup yang bersumber dari suara hati manusia atau hati nurani. Suara hati manusia yang menentukan mana perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Oleh karenanya kaidah kesusilaan bergantung pada setiap pribadi manusia. Manusia itu berbuat baik atau berbuat buruk karena bisikan suara hatinya. Kaidah kesusilaan ditujukan kepada sikap batin manusia, asalnya dari manusia sednriri maka yang mengancam setiap pelanggaran kaidah kesusilaan adalah batin manusia itu sendiri. Dengan kata lain sanksi untuk mereka yang melanggar kaidah kesusilaan bukanlah paksaan dari luar dirinya melainkan dari batinnya sendiri, oleh karena itu kaidah kesususilaan bersifat otonom.

Kaidah kesopanan adalah peraturan hidup yang timbul dari dalam pergaulan suatu masyarakat tertentu. Kaidah kesopanan, dasarnya adalah kepantasan, kebiasaan, atau kepatutan yang berlaku dalam masyarakat. Kaidah kesopanan ditujukan kepada sikap lahir setiap pelakunya demi ketertiban masyarakat dan untuk mencapai suasana keakraban dalam pergaulan, sehingga tujuannya bukan manusia sebagai pribadi tetapi manusia sebagai makhluk sosial yang hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Sanksi terhadap pelanggar kaidah kesopanan adalah mendapat celaan dari masyarakat dimana ia berada. Dengan demikian sanksi itu dipaksakan oleh kekuasaan dari luar yaitu masyarakat. Karena itu kaidah kesopanan bersifat heteronom.
[post_ads]
[next]
Kaidah hukum adalah peraturan yang dibuat atau yang dipositifkan secara resmi oleh penguasa masyarakat atau penguasa negara, mengikat setiap orang dan berlakunya dapat dipaksakan oleh aparat masyarakat atau aparat negara, sehingga berlakunya kaidah hukum dapat dipertahankan. “Isi kaidah hukum ditujukan kepada sikap lahir manusia. Kaidah hukum mengutamakan perbuatan lahir. Pada hakikatnya apa yang ada di batin, apa yang dipikirkan manusia tidak menjadi soal, asal lahirnya ia tidak melanggar kaidah hukum.” (Sudikno Martokusumo 1986: 12).[2] 

Kaidah hukum tidak akan memberi sanksi kepada seseorang yang mempunyai sikap batin yang buruk, tetapi yang akan diberi sanksi oleh kaidah hukum adalah perwujudan sikap batin yang buruk itu menjadi perbuatan nyata atau perbuatan konkret. Namun demikian kaidah hukum tidak hanya memberikan kewajiban saja tetapi juga memberikan hak. Asal mula dan sanksi bagi pelanggar kaidah hukum datang dari luar diri manusia maka heteronom sifatnya.


Apabila diperhatikan tentang rumusan pengertian dari masing-masing kaidah tadi atas, dapatlah dipahami bahwa keempat kaidah sosial tersebut mengandung arti adanya tingkatan mengenai sanksi yang diterima oleh pelanggar kaidah-kaidah sosial itu.

Kaidah agama atau kepercayaan sanksi yang akan diterima oleh pelanggar kaidah ini nanti didapatkan di akhirat, sehingga sanksi ini kurang berpengaruh terhadap mereka yang tidak menganut agama atau kepercayaan tertentu. Kaidah kesusilaan sanksinya akan dialami oleh pelanggarnya bila kemudian sadar bahwa ia melanggar kesusilaan, sehingga sanksi kaidah kesusilaan pun kurang berpengaruh bagi mereka yang tidak sadar akan perbuatannya.

Kaidah kesopanan sanksinya memang dapat dialami oleh pelanggar kaidah ini, karena mereka yang melanggar kaidah kesopanan akan dikucilkan oleh masyarakat di mana mereka bertempat tinggal. Namun bagi mereka yang tidak peduli akan sanksi  demikian tidak akan terpengaruh oleh sanksi tersebut sehingga perbuatan mereka tidak akan diperbaiki.

Sanksi dari ketiga kaidah sosial tersebut kurang tegas sehingga kurang efektif dalam menjamin ketertiban dan keteraturan masyarakat. Oleh karena itu sangatlah diperlukan kaidah hukum. Masalah yang diatur dalam kaidah hukum lebih lengkap jika dibandingkan dengan hal-hal yang diatur dalam ketiga kaidah sosial lainnya. Sanksi dari kaidah hukum bersifat tegas serta dapat dipaksakan oleh lembaga berwenang atau penguasa, sehingga kaidah sosial ini diharapkan dapat menjamin terciptanya ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Dengan adanya kaidah hukum diharapkan kemananan dan ketentraman masyarakat dapat terealisasikan.

Setelah paparan teori tentang kaidah hukum di atas, mari kita renungkan. Bagaimana jadinya suatu masyarakat tanpa adanya kaidah hukum. Jika sekarang sudah ada kaidah hukum dalam masyarakat tetapi kenyataannya keamanan dan ketertiban masih belum terwujud sepenuhnya, apalagi tidak ada sama sekali? Tentunya keadaan dalam masyarakat tersebut akan kacau balau. Masyarakat pun akan berbuat semena-semena tanpa mengenal batasan ataupun ukuran sebuah perilaku. Tidak ada yang  menjunjung tinggi sebuah ketertiban dan keamanan, kejahatan di mana-mana, tidak ada hak dan perlindungan yang didapat, tidak ada petugas berwenang yang memberi sanksi, tidak ada tatanan, tidak ada jaminan hidup, bahkan tidak ada kehidupan di dunia ini. Menyeramkan sekali, bukan?

Untuk itu, kita harus bersyukur bahwa kehidupan kita sudah dilengkapi dengan kaidah hukum. Hidup kita telah dilindungi dan dijamin oleh hukum. Ada petugas yang berwenang untuk memberikan sanksi kepada orang yang berbuat melanggar hukum. Ada hukum pidana dan perdata. Ada orang yang memberi teguran ketika kita melanggar kaidah kesopanan. Ada peringatan ketika kita melanggar kaidah keagamaan dan ada suatu bisikan yang memberi tahu bahwa kita berbuat salah ketika kita melanggar kaidah kesusilaan.
[post_ads_2]
[next]


Tentunya suatu masyarakat tidak ada yang tertib sepenuhnya. Pasti ada suatu konflik yang timbul karena adanya kebutuhan dan kepentingan yang berbeda-beda. Di sinilah kaidah hukum bekerja. Untuk menjadi penengah ketika konflik itu terjadi. Begitu pula kejahatan ataupun tindak kriminal, baik itu tindak kejahatan ringan maupun berat. Dengan adanya pelanggaran dan kaidah hukum yang berjalan beriringan, hal tersebut menjadi seimbang. Masyarakat yang tertib dan damai merupakan cita-cita kita semua. Untuk itu, mari kita bersama-sama mewujudkan tujuan yang selama ini belum terwujudkan.

Daftar Bacaan:
Arrasjid, Chainur, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2014
Daliyo, J.B., Pengantar Ilmu Hukum, PT. Prenhallindo, Jakarta, 2014





[1] Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2014, hlm. 1.

[2] Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2014, hlm. 12.

DISCLAIMER:
Konten dari tulisan ini adalah milik mahasiswa yang bersangkutan. Segala sesuatu berkaitan dengan isi tulisan sepenuhnya menjadi otoritas mahasiswa. Penayangan pada website ini juga telah melalui persetujuan dari pihak yang bersangkutan.

KOMENTAR

Name

AGAMA,2,Biografi,1,BLOG,16,Dosen,26,Download,15,Foto,14,HUKUM,4,HUMANIORA,9,Instagram,7,Jadwal Kuliah,2,Mahasiswa,49,Makalah,6,MANGKUNEGARA,6,Materi Kuliah,13,POLITIK,3,Puisi,1,Reguler A,26,Reguler B,24,Rubrik Mahasiswa,49,Sastra,1,Sejarah,2,Tugas Kuliah,53,
ltr
item
Website Resmi | Dr. RM. Armaya Mangkunegara, S.H., M.H.: Kaidah Hukum Sebagai Wadah Dalam Menggapai Cita-Cita Masyarakat
Kaidah Hukum Sebagai Wadah Dalam Menggapai Cita-Cita Masyarakat
Kaidah Hukum Sebagai Wadah Dalam Menggapai Cita-Cita Masyarakat
https://4.bp.blogspot.com/-fPEFT_geQzA/W_AdAm9FAEI/AAAAAAAAASg/E0bSS5RiFU0fnIWOclrandCvei-0HRpAQCLcBGAs/s320/ILUSTRASI%2BTUGAS.png
https://4.bp.blogspot.com/-fPEFT_geQzA/W_AdAm9FAEI/AAAAAAAAASg/E0bSS5RiFU0fnIWOclrandCvei-0HRpAQCLcBGAs/s72-c/ILUSTRASI%2BTUGAS.png
Website Resmi | Dr. RM. Armaya Mangkunegara, S.H., M.H.
https://www.mangkunegara.com/2018/11/kaidah-hukum-sebagai-wadah-dalam.html
https://www.mangkunegara.com/
https://www.mangkunegara.com/
https://www.mangkunegara.com/2018/11/kaidah-hukum-sebagai-wadah-dalam.html
true
8785525627328632150
UTF-8
Tampilkan Semua Post Tidak Menemukan Post TAMPILKAN Baca Selengkapnya Balas Batalkan Balasan Hapus Oleh Home HALAMAN POSTS Tampilkan Semua BACA JUGA: TAG ARSIP CARI SEMUA POST Artikel yang Anda cari tidak ditemukan Kembali Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy Semua Seleksi Semua Semua Code Telah Tercopy Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy