Keadilan Jadi Barang Sungkar Ketika Hukum Tegak Pada yang Bayar

Keadilan Jadi Barang Sungkar Ketika Hukum Tegak Pada yang Bayar


Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang Tuban
MANGKUNEGARA.COM - Tulisan ini merupakan tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum (PIH). Dibuat mandiri oleh mahasiswa dan ditayangkan pada portal mangkunegara.com.
  • [message]
    • ##check##Ditulis Oleh :  Maullaldy Ira Kusuma Duwiyanita
      • Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang Tuban Kelas Reguler B


Dalam keadilan hukum menurut saya, di Indonesia ini hukum belum berjalan sesuai dengan UU yang berlaku, masih banyak oknum-oknum yang menyalahgunakan wewenang denmgan motif pembayaran. Nah disini saya ingin membahas bagaimana keadilan menjadi barang sungkar ketika hukum hanya tegak kepada yang bayar.

Sebuah refleksi atas sebagian karya Andre Comte-Sponville A Small Treatise on the Great Virtues (Edisi Inggris), yang berjudul “Justice”. Pada bagian tersebut, Comte-Sponville membahas keadilan sebagai satu dari empat kebaikan utama – tiga lainnya adalah kebijaksanaan, kendali diri, dan keberanian. 
[post_ads] 
Pada bagian tertentu dari pembahasannya, Comte-Sponville menunjukkan hukum sebagai wadah faktual keadilan tidak dapat menampung nilai keadilan. Baginya hal ini penting terutama – sesuai tema tulisannya – untuk membuktikan bahwa sebaiknya keadilan diterima sebagai nilai, yakni salah satu kebaikan utama. 

Bagi saya, apa yang dilakukan Comte-Sponville itu juga penting karena menunjukkan bahwa filsafat masih dapat dan sebaiknya tetap membicarakan keadilan. Spesifikasi ilmu dan profesionalitas kerja membuat filsafat semakin sulit untuk membicarakan keadilan dalam bentuk faktualnya, yakni hukum. Hukum kini telah dibicarakan dalam cabang ilmu spesifik, dan hanya digeluti oleh profesi tertentu. 

Dengan kata lain, sulit bagi filsafat kontemporer untuk membicarakan keadilan seperti dalam tata negaranya Plato atau pemisahan kekuasaannya Locke. Berkaitan dengan ini, Comte-Sponville menunjukkan batas di mana keadilan tidak dapat lagi ditampung oleh hukum. Mulai dari batas inilah filsafat dapat membicarakan keadilan, karena sudah berada di luar hukum. 

Tetapi kita tidak dapat membicarakan keadilan mulai dari batas tampungan hukum begitu saja. Sebelumnya harus dijelaskan, mengapa keadilan harus dituangkan dalam hukum, kapan keadilan tidak dapat lagi ditampung dalam hukum, dan apa yang terjadi jika keadilan sudah berada di luar hukum. 

Karena itu, tulisan ini akan menjelaskan hal-hal di atas, dalam bingkai pertanyaan besar, “Mengapa keadilan tidak dapat ditampung sepenuhnya dalam hukum?” 

Dengan mengatakan bahwa keadilan tidak dapat ditampung sepenuhnya oleh hukum, maka kita berhadapan dengan pertanyaan awal, “Mengapa keadilan harus dituangkan dalam hukum?” 

Tanpa dituangkan dalam hukum, keadilan memang dapat dilihat sebagai perjanjian yang menjamin kemajuan dan kesejahteraan bersama (Comte-Sponville 2001, 62). Tetapi jika hanya dipandang demikian, keadilan dapat dengan mudah mengorbankan orang lemah dan tak bersalah demi kebahagiaan orang banyak. 
[post_ads_2] 
Kita sebaiknya memandang keadilan – seperti John Rawls – lebih tinggi dan lebih berharga dari kesejahteraan atau efisiensi, dan tidak dapat dikorbankan untuknya – bahkan untuk kebahagiaan orang banyak (Comte-Sponville 2001, 62). 

Sementara jika dilihat dari sisi lain, keadilan yang tidak dituangkan dalam hukum juga tidak memiliki kekuatan, dan karenanya tidak bermanfaat. 

Keadilan memang memiliki dua makna yang berkaitan, yaitu ketaatan pada hukum, dan keseteraan dengan yang lain. Kedua makna ini berdasarkan pada pengertian umum keadilan yang berakar dari penjelasan Aristoteles. 

Dalam makna pertamanya, keadilan berhubungan erat dengan hukum. Di mana hukum pertama-tama diperlukan untuk membentuk masyarakat yang memungkinkan adanya keadilan, karena tidak ada keadilan tanpa masyarakat (Comte-Sponville 2001, 75). Kemudian hukum juga diperlukan untuk menegakkan keadilan dalam masyarakat. 

Meski berhubungan erat, hukum tetap berbeda dari keadilan. Hukum lebih berharga sebagai fakta daripada nilai. Hukum juga tidak dihasilkan oleh yang paling adil atau pintar, melainkan oleh jumlah terbanyak (Comte-Sponville 2001, 63). 

Sementara dalam makna keduanya, sebagai kesetaraan dengan yang lain, keadilan mulai tampak tidak selaras dengan hukum. Persoalannya, “Bagaimana keadilan sebagai kesetaraan dengan yang lain berhubungan dengan hukum yang mencakup perlindungan atas milik pribadi, padahal pada kenyataannya kepemilikan pribadi sering kali tidak setara?” Di sini posisi hukum jelas, adil atau tidak, hukum adalah hukum (Comte-Sponville 2001, 64) 

Sebagai contoh implementasi keadilan yang ditumpangkan dalam hukum, Seperti yang teman-teman lihat disekitar kita masih banyak instansi yang menyalahgunakan keadilan, misalnya saat kita di pusat pelayanan kesehatan atau di rumah sakit, seperti yang kita ketauhi bahwa masyarakat yang menggunakan BPJS mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan masyarakat umum yang membayarnya tanpa BPJS Kesehatan, contoh kecilnya di bagian pelayanan pasien BPJS selalu di nomor duakan, menurut saya, berbeda dengan pasien yang membayar mereka selalu mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang memadahi. 

Pertanyaan saya, bukankah BPJS setiap bulan juga memiliki kewajiban untuk membayar? Lantas mengapa keadilan itu tidak berpihak pada pasien BPJS, bahkan para instansi kesehatan pun memandang sebelah mata pada pasien BPJS dibandingkan dengan pasien non BPJS. 

Tentu tidak hanya terjadi pada instansi kesehatan saja, menurut saya di dalam bidang hukum dan peradilan sendiri masih sering kita temukan hal yang meyerupai tersebut. Dimana keadilan bisa di perjual belikan. Yang mana huikum akan tumpul keatas dan semakin tajam kebawah. Begitulah realita yang ada saat ini di Indonesia. Sebagai contoh adalah dari kasus-kasus yang telah beredar di sosial media maupun televisi swasta. Yaitu kasus yang terjadi pada Ibu Nuril atau Baiq Nuril Maqnum, seorang pegawai honorer di SMAN 7 Mataram yang telah dinyatakan bersalah oleh Makamah Agung (MA) karena melakukan tindak pidana sebagimana diatur dalam Pasal 27 ayat (1) UU ITE dan divonis enam bulan penjara serta kewajiban membayar denda sebesar Rp 500.000.000,00. Secara sederhana Ibu Nuril dianggap terbukti oleh MA telah melakukan penyebarab percakapan asusila Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram. 

Padahal, sebelumnya PN Mataram menyatakan ia tidak terbukti mentransmisikan konten yang bermuatan pelanggaran kesusilaan. Dalam persidangan, Majelis Hakim PN Mataram bahkan menyatakan bahwa unsur “tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dana/atau dokumen elektronik” tidak terbukti sebab bukan ia yang melakukan penyebaran tersebut, melainkan pihak lain. 

Sebelumnya ketika bertugas di SMAN 7 Mataram, Baiq Nuril sering mendapatkan perlakuan pelecehan dari Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram. Contohnya, ia sering dihubungi oleh Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram dan harus mendengarkan yang bersangkutan menceritakan pengalamannya berhubungan seksual dengan wanita lain yang mana bukan istrinya sendiri. Merasa tidak nyaman dengan hal tersebut dan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat hubungan gelap seperti yang dibicarakan orang sekitarnya, Baiq Nuril pun merekam pembicaraannya. Atas dasar ini kemudian Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram melaporkannya ke penegak hukum. 

Putusan MA ini memiliki catatan tersendiri yang harus dikritisi bersama. Karena dalam lingkup peradilan, Hakim MA terikat pada Perma No. 3 tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perempuan yang berhadapan dengan Hukum, termasuk dalam konteks perempuan yang didakwa melakukan tindak pidana. Lewat Pasal 3 Perma tersebut hakim wajib mengindentifikasi situasi perlakuan tidak setara yang diterima perempuan yang berhadapan dengan hukum, hal ini jelas dialami oleh Baiq Nuril yang merupakan korban kekerasan seksual. 
[post_ads_2] 
Kesimpulannya, bawasanya keadilan di Indonesia ini belum sepenuhnya bisa di anggap “Adil” hak setiap orang masih terancam oleh oknum yang memiliki kekuasaan yang bisa seenaknya membeli hak orang yang tidak memiliki wewenang, maka dari itu saya beranggapan bahwa Keadilan Jadi Barang Sungkar Ketika Hukum Tegak Pada Yang Bayar.
DISCLAIMER:
Konten dari tulisan ini adalah milik mahasiswa yang bersangkutan. Segala sesuatu berkaitan dengan isi tulisan sepenuhnya menjadi otoritas mahasiswa. Penayangan pada website ini juga telah melalui persetujuan dari pihak yang bersangkutan.

KOMENTAR

Name

AGAMA,2,Biografi,1,BLOG,16,Dosen,26,Download,15,Foto,14,HUKUM,4,HUMANIORA,9,Instagram,7,Jadwal Kuliah,2,Mahasiswa,49,Makalah,6,MANGKUNEGARA,6,Materi Kuliah,13,POLITIK,3,Puisi,1,Reguler A,26,Reguler B,24,Rubrik Mahasiswa,49,Sastra,1,Sejarah,2,Tugas Kuliah,53,
ltr
item
Website Resmi | Dr. RM. Armaya Mangkunegara, S.H., M.H.: Keadilan Jadi Barang Sungkar Ketika Hukum Tegak Pada yang Bayar
Keadilan Jadi Barang Sungkar Ketika Hukum Tegak Pada yang Bayar
Keadilan Jadi Barang Sungkar Ketika Hukum Tegak Pada yang Bayar
https://4.bp.blogspot.com/-fPEFT_geQzA/W_AdAm9FAEI/AAAAAAAAASg/E0bSS5RiFU0fnIWOclrandCvei-0HRpAQCLcBGAs/s320/ILUSTRASI%2BTUGAS.png
https://4.bp.blogspot.com/-fPEFT_geQzA/W_AdAm9FAEI/AAAAAAAAASg/E0bSS5RiFU0fnIWOclrandCvei-0HRpAQCLcBGAs/s72-c/ILUSTRASI%2BTUGAS.png
Website Resmi | Dr. RM. Armaya Mangkunegara, S.H., M.H.
https://www.mangkunegara.com/2018/12/keadilan-jadi-barang-sungkar-ketika.html
https://www.mangkunegara.com/
https://www.mangkunegara.com/
https://www.mangkunegara.com/2018/12/keadilan-jadi-barang-sungkar-ketika.html
true
8785525627328632150
UTF-8
Tampilkan Semua Post Tidak Menemukan Post TAMPILKAN Baca Selengkapnya Balas Batalkan Balasan Hapus Oleh Home HALAMAN POSTS Tampilkan Semua BACA JUGA: TAG ARSIP CARI SEMUA POST Artikel yang Anda cari tidak ditemukan Kembali Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy Semua Seleksi Semua Semua Code Telah Tercopy Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy